Agama (tanpa) huruf “A”
Sejak awal babak modern dimulai, kehadiran agama sudah mulai disangsikan. Modernisme yang banyak diilhami oleh materialisme menempatkan agama di bangku cadangan dari gelanggang kehidupan manusia. Kehidupan manusia kemudian dipandu oleh madrasah sekularisme. Sebuah sekolah yang mengajarkan ketidaksalinghubungan antara urusan negara dan urusan agama. Akibatnya, agama menjadi sangat pribadi. Maka, di negara sekuler, jika seseorang menanyakan tentang agama apa yang dianut oleh seseorang yang lain, biasanya akan marah dan tidak akan menjawab ‘pertanyaan bodoh’ semacam itu.
Lantas untuk apa agama itu dilahirkan? Ini bukan pertanyaan untuk menggugat kehadiran agama di muka bumi sebagaimana yang dilakukan oleh modernisme. Bukan pula untuk mengapresiasi pendirian aqidah Lia Aminuddin dengan agama barunya bernama Salamullah. Dengan agama barunya itu, Lia, dari sudut pandang sosiologis, hendak mengkritik prilaku agama-agama yang ambigu: satu sisi menawarkan spirit perdamaian tetapi pada saat yang sama sering memicu permusuhan.
Bukan pula untuk mengamini seruan Nietzsche yang mengumumukan “kematian Tuhan” sebagai usaha menyelamatkan manusia, Karl Marx yang menganggap agama sebagai candu, demi menghapus eksploitasi kaum kapitalis, August Comte yang menganggap agama sebagai sekedar mitos dan folklor atau era sesudahnya, yang memandang agama hanya berkutat pada masalah-masalah metafisika. Apakah agama (Islam) seperti yang mereka tuduhkan itu?
Pertanyaan itu sengaja diajukan kembali—dan itu dari insider—untuk menanyakan kembali relasi dealektis dan koherensi antara teks agama yang normatif (terbaca dalam teks) dan konteks agama yang historis (yang hidup dalam prilaku). Selain itu, pertanyaan itu untuk menanyakan praktek-praktek sosial agama yang sering keluar dari semangat batin agama yang tanpa itu, agama seperti jasad yang tak bernyawa. Ini bukan berarti pula hendak mengkampanyekan (secara berlebihan) terhadap pendekatan fenomenologis (phenomenological approaches) seperti yang banyak dianut oleh para antropolog. (lihat misalnya: Peter Connolly Ed. : 1999)
Definisi yang diajukan oleh ulama seperti imam al-Syathibi mungkin patut diulas. Menurutnya, agama adalah, ilâhiyah al-masdar wa insâniyyah al-maudlu’ (“agama itu bersumber dari Tuhan dan diorientasikan untuk memenuhi kepentingan kemanusiaan”). Dari definisi itu, jelas bahwa Tuhan tidak memerlukan agama. Karenanya, agama tidak boleh dikembalikan kepada Tuhan. Kata-kata, “demi agama Allah” dengan demikian secara implisit bermakna demi kepentingan kemanusiaan. Dengan kata lain, agama harus mengabdi kepada kepentingan kemanusiaan. Dan dimensi kemanusiaan dapat melampaui keragaman agama, etnis, suku, ras, dan lainnya.
Lihatlah hadis Nabi yang mengatakan, innamâ bu’itstu li utammim makârim al-akhlâq (“aku (Muhammad) diutus oleh Allah untuk menyempurnakan akhlak umat manusia”) mengisyaratkan bahwa dimensi ihsan (amal saleh) yang bertumpu pada spirit nilai-nilai kemanusiaan adalah bagian tak terpisahkan dari sistem three in one (iman, Islam, dan ihsan). Jika iman tidak dapat diukur secara positivistik, maka amal saleh mudah dilihat. Misalnya, orang yang gemar berderma kepada sesama (terutama terhadap kaum papa) adalah praktek ihsan yang menjadi cerminan dari gambaran keberimanan dan keberislamannya. Meskipun, katakanlah ia jarang berbaju koko putih, berpeci haji, berjenggot, dan jarang berceramah di masjid-masjid, kepribadiannya yang gemar bersedekah mencerminkan bahwa nyawa kesilamannya sedang hidup secara aktif. Di sini agaknya berlaku redaksi al-Qur’an yang artinya: “sesungghnya Allah tidak melihat fisik dan bentuk kalian. Tetapi Ia lebih melihat hati kalian”. Dengan demikian, berislam secara artifisial yang lebih mengedepankan pada aras simbol dan ritus tanpa menunjukkan aspek nyawanya—mengikuti makna redaksi di atas—tidak terlalu dipandang Tuhan.
Sebaliknya, profil Muslim yang gemar berbusana Islam tetapi kelakuannya mencerminkan unsur-unsur nifâq (kata-katanya susah dipercaya, janjinya jarang ditepati, tidak bisa memegang amanah), maka yakinlah orang tersebut sedang terganggu jiwa keislamannya. Jika Nietzsche mebunuh agama dengan slogan, maka yang ini dengan perbuatan. Dia adalah musuh Islam “dari dalam”. Dalam kaitan ini mungkin benar kalimat yang mengatakan, al-Islâm mahjûb bi al-Muslimîn (Islam itu akan tertutup (“terpuruk”) oleh kalangan dari dalam: kaum Muslimin)
Nyawa Islam
Spirit Islam adalah pembebasan dari prilaku yang menyimpang dari nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal.Coba dibayangkan manusia tanpa nyawa? Ia akan menjadi benda mati yang tak berguna. Lantas, apa yang dimaksud dengan ‘nyawa Islam’ itu? Nyawa Islam tergambar dalam spirit tauhid yang tertera dengan indah dalam deret kalimat, lâ ilâha illa Allah. Di situ ada semangat pembebasan dari ketergantungan dengan ilah-ilah yang lain sebelum akhirnya seseorang mengakui Allah sebagai Tuhannya Yang Satu sebagai Pusat Ketergantungan Yang Terakhir. Pembebasan dari apa dan untuk apa? Tentu saja pembebasan dari pikiran dan sikap hidup yang bertentangan dengan fitrah kemanusiaannya.
Pembebasan itu dilakukan untuk tujuan penegakan moral kemanusiaan dan ketuhanan sekaligus. Dalam kaitan ini, pemikir besar Iran Ali Syari’ati mengatakan bahwa profil insan kamil (“manusia sempurna”) pling tidak memiliki tiga sifat: kesadaran diri, kebebasan, dan kreatifitas. Kesadaran diri menyangkut eksistensi kemanusiaannya. Misalnya seruan Bapak filsafat modern Descartes yang menyerukan, cogito ergo sum (saya berpikir, maka saya ada). Kesadaran kemanusiaan ala Descartes bertumpu pada pemikiran. Albert Camus bertumpu pada pemberontakan dengan alam dengan mengatakan, “saya memberontak, karena itu saya ada”.
Kesadaran keislaman—atau dengan bahasa lain, nyawa Islam—bertumpu pada spirit lâ ilâha illa Allah dan penegakan moral kemanusiaan. Kepercayaan itu penting agar ada rasa optimisme dalam hidup. Contohnya, seseorang yang hendak naik bus, ia harus percaya dulu bahwa sang sopir bisa membawanya ke tempat tujuan dengan aman dan selamat. Apa jadinya kalau dalam hati terdetik tidak percaya terhadap sopir? Begitu pula dengan keapercayaan terhadap Allah sebagai Petunjuk jalan keselamatan. Dalam kaitannya dengan penegakan moral, mungkin slogannya bisa dibuat dengan mengikuti kalimat Descartes: “saya bermoral karena itu saya ada”. Ini sesuai dengan hadis Nabi yang disebut di atas. Jika demikian misi agama yang paling utama, maka agama, lewat pemeluknya, harus terus menerus merevitalisasi misi moral agama. Jika kesadaran itu semakin hilang, maka agama tidak lagi bermakna dalam kehidupan manusia. Dengan begitu, agama telah ‘dibunuh’ oleh pemeluknya sendiri. Ia ada tapi tak lagi bernyawa. Agama tidak lagi bermakna sebagai “tidak kacau” (a-gama) tetapi menjadi “kacau” (kacau)?
Rabu, 28 Januari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar