Rabu, 14 Januari 2009

Borneo Corner

GORENG PISANG, WARUNG KOPI, DAN TITIK TEMU KEBUDAYAAN

Mungkin di Jakarta, goreng pisang Pontianak sudah jadi alternatif kuliner warga Jakarta. Ia menjadi jajanan khas daerah yang sudah ‘dimetropolisasi’. Disamping faktor pasar, konstruksi ruang yang berbeda menyebabkan pisang goreng Pontianak menjadi elitis. Harganya bisa lebih mahal hingga lima kali lipat. Apa kelebihannya? Jenis ‘pisang nipah’ yang manis dan legit serta ‘tampilan gorengan’nya yang khas menjadi defernsiasi tersendiri. Di Jakarta, selain ada yang sudah dulu dikenal seperti jeruk Pontianak, kini telah populer dengan pisgor Pontianak. Inilah identitas yang sudah mengalami globalisasi. Cerita identitas lokal, seoarang kawan dari Riau pernah mengeluh: “kalau orang dari daerah lain pergi ke Padang, sebelum meninggalkan kota Padang selalu ingat oleh-oleh seperti kerpik sanjai. Tapi kalau pergi ke Pekanbaru, kebingungan mau bawa oleh-oleh apa?”. Saya mengatakan, “perlu dipikirkan strategi komunkikasi kebudayaan yang jitu” sebagaimana Fadel Muhammad, gubernur Gorontalo yang berhasil mendongkrak brand jagung Gorontalo.
Kembali ke pisang goreng. Di tempat asalnya, ternyata kita dapat menemukannya dengan mudah di pinggir-pinggir jalan. Dari ‘jalan biasa’ hingga jalan protokol dan di pusat-pusat keramaian seperti di jalan Gajah Mada. Sederetan hotel, jajanan khas, dan kedai kopi paling banyak dijumpai di sini. Jalan inipun relatif paling ramai hingga malam hari dibanding jalan A. Yani dimana kantor-kantor pemerintahan berjejer di situ. Sebuat saja di warung kopi depan Hotel Orchad. Kalau anda datang jam tiga sore, tempat itu sudah ramai dikunjungi tamu hingga malam hari. Warung kopi di Pontianak tidak seperti yang biasa dijumpai di Jakarta. Selaian rasa dan aroma kopinya yang khas, sajian tempatnya mirip seperti ‘kafe tenda’ yang dulu pernah marak di Jakarta pasca-krisis (sekitar tahun 1999-an).
Yang menarik, sepanjang yang dapat diamati, para pengunjung yang datang sangat beragam baik dari latar belakang etnis maupun profesi. Saya sering penasaran: apa yang mereka bincangkan hingga berjam-jam duduk di situ. Ternyata, setiap warung kopi memiliki ‘group discussian’nya sendiri. Ada warung kopi yang sering ditongkrongi para ‘free-selsman’. Jika anda ingin mencari motor bekas, rumah, tanah, mobil, hingga ‘bekas isteri’pun ada di situ. Ada juga warung kopi dimana para pejabat sering mendiskusikan aneka proyek dan isu mutasi. Kalau di Jakarta, banyak keputusan penting perusahaan dan kantor pemerintah yang strtegis bisa selesai di lapangan golf. Di Pontianak, karena tidak ada lapangan golf, warung kopi bisa menjadi penggantinya.
Di warung kopi, batas-batas biologis, etnis, agama, dan status sosial lainnya menjadi pudar dan mencair. Orang tidak lagi peduli siapa yang datang dan siapa pemilik warung kopi. Orang Melayu tidak pernah menyoal: di ‘warung kopi Melayu’ atau ‘warung kopi Cina’?, Muslim, Kristen, Koghucu? Meskipun pemilik warung kopi rata-rata adalah etnis Cina, ‘kecinaan’ tidak pernah menjadi halangan. Begitu juga dengan ‘pecel Madura’ yang lumayan di kenal di Pontianak. Meskipun pernah terjadi babak sejarah yang memilukan antara Dayak-Madura dan Melayu-Madura seperti pada Tragedi Sambas tahun 1999, pecel si bibi Madura telah menjadi mediator antar kebudayaan yang efektif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar