Agama (tanpa) huruf “A”
Sejak awal babak modern dimulai, kehadiran agama sudah mulai disangsikan. Modernisme yang banyak diilhami oleh materialisme menempatkan agama di bangku cadangan dari gelanggang kehidupan manusia. Kehidupan manusia kemudian dipandu oleh madrasah sekularisme. Sebuah sekolah yang mengajarkan ketidaksalinghubungan antara urusan negara dan urusan agama. Akibatnya, agama menjadi sangat pribadi. Maka, di negara sekuler, jika seseorang menanyakan tentang agama apa yang dianut oleh seseorang yang lain, biasanya akan marah dan tidak akan menjawab ‘pertanyaan bodoh’ semacam itu.
Lantas untuk apa agama itu dilahirkan? Ini bukan pertanyaan untuk menggugat kehadiran agama di muka bumi sebagaimana yang dilakukan oleh modernisme. Bukan pula untuk mengapresiasi pendirian aqidah Lia Aminuddin dengan agama barunya bernama Salamullah. Dengan agama barunya itu, Lia, dari sudut pandang sosiologis, hendak mengkritik prilaku agama-agama yang ambigu: satu sisi menawarkan spirit perdamaian tetapi pada saat yang sama sering memicu permusuhan.
Bukan pula untuk mengamini seruan Nietzsche yang mengumumukan “kematian Tuhan” sebagai usaha menyelamatkan manusia, Karl Marx yang menganggap agama sebagai candu, demi menghapus eksploitasi kaum kapitalis, August Comte yang menganggap agama sebagai sekedar mitos dan folklor atau era sesudahnya, yang memandang agama hanya berkutat pada masalah-masalah metafisika. Apakah agama (Islam) seperti yang mereka tuduhkan itu?
Pertanyaan itu sengaja diajukan kembali—dan itu dari insider—untuk menanyakan kembali relasi dealektis dan koherensi antara teks agama yang normatif (terbaca dalam teks) dan konteks agama yang historis (yang hidup dalam prilaku). Selain itu, pertanyaan itu untuk menanyakan praktek-praktek sosial agama yang sering keluar dari semangat batin agama yang tanpa itu, agama seperti jasad yang tak bernyawa. Ini bukan berarti pula hendak mengkampanyekan (secara berlebihan) terhadap pendekatan fenomenologis (phenomenological approaches) seperti yang banyak dianut oleh para antropolog. (lihat misalnya: Peter Connolly Ed. : 1999)
Definisi yang diajukan oleh ulama seperti imam al-Syathibi mungkin patut diulas. Menurutnya, agama adalah, ilâhiyah al-masdar wa insâniyyah al-maudlu’ (“agama itu bersumber dari Tuhan dan diorientasikan untuk memenuhi kepentingan kemanusiaan”). Dari definisi itu, jelas bahwa Tuhan tidak memerlukan agama. Karenanya, agama tidak boleh dikembalikan kepada Tuhan. Kata-kata, “demi agama Allah” dengan demikian secara implisit bermakna demi kepentingan kemanusiaan. Dengan kata lain, agama harus mengabdi kepada kepentingan kemanusiaan. Dan dimensi kemanusiaan dapat melampaui keragaman agama, etnis, suku, ras, dan lainnya.
Lihatlah hadis Nabi yang mengatakan, innamâ bu’itstu li utammim makârim al-akhlâq (“aku (Muhammad) diutus oleh Allah untuk menyempurnakan akhlak umat manusia”) mengisyaratkan bahwa dimensi ihsan (amal saleh) yang bertumpu pada spirit nilai-nilai kemanusiaan adalah bagian tak terpisahkan dari sistem three in one (iman, Islam, dan ihsan). Jika iman tidak dapat diukur secara positivistik, maka amal saleh mudah dilihat. Misalnya, orang yang gemar berderma kepada sesama (terutama terhadap kaum papa) adalah praktek ihsan yang menjadi cerminan dari gambaran keberimanan dan keberislamannya. Meskipun, katakanlah ia jarang berbaju koko putih, berpeci haji, berjenggot, dan jarang berceramah di masjid-masjid, kepribadiannya yang gemar bersedekah mencerminkan bahwa nyawa kesilamannya sedang hidup secara aktif. Di sini agaknya berlaku redaksi al-Qur’an yang artinya: “sesungghnya Allah tidak melihat fisik dan bentuk kalian. Tetapi Ia lebih melihat hati kalian”. Dengan demikian, berislam secara artifisial yang lebih mengedepankan pada aras simbol dan ritus tanpa menunjukkan aspek nyawanya—mengikuti makna redaksi di atas—tidak terlalu dipandang Tuhan.
Sebaliknya, profil Muslim yang gemar berbusana Islam tetapi kelakuannya mencerminkan unsur-unsur nifâq (kata-katanya susah dipercaya, janjinya jarang ditepati, tidak bisa memegang amanah), maka yakinlah orang tersebut sedang terganggu jiwa keislamannya. Jika Nietzsche mebunuh agama dengan slogan, maka yang ini dengan perbuatan. Dia adalah musuh Islam “dari dalam”. Dalam kaitan ini mungkin benar kalimat yang mengatakan, al-Islâm mahjûb bi al-Muslimîn (Islam itu akan tertutup (“terpuruk”) oleh kalangan dari dalam: kaum Muslimin)
Nyawa Islam
Spirit Islam adalah pembebasan dari prilaku yang menyimpang dari nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal.Coba dibayangkan manusia tanpa nyawa? Ia akan menjadi benda mati yang tak berguna. Lantas, apa yang dimaksud dengan ‘nyawa Islam’ itu? Nyawa Islam tergambar dalam spirit tauhid yang tertera dengan indah dalam deret kalimat, lâ ilâha illa Allah. Di situ ada semangat pembebasan dari ketergantungan dengan ilah-ilah yang lain sebelum akhirnya seseorang mengakui Allah sebagai Tuhannya Yang Satu sebagai Pusat Ketergantungan Yang Terakhir. Pembebasan dari apa dan untuk apa? Tentu saja pembebasan dari pikiran dan sikap hidup yang bertentangan dengan fitrah kemanusiaannya.
Pembebasan itu dilakukan untuk tujuan penegakan moral kemanusiaan dan ketuhanan sekaligus. Dalam kaitan ini, pemikir besar Iran Ali Syari’ati mengatakan bahwa profil insan kamil (“manusia sempurna”) pling tidak memiliki tiga sifat: kesadaran diri, kebebasan, dan kreatifitas. Kesadaran diri menyangkut eksistensi kemanusiaannya. Misalnya seruan Bapak filsafat modern Descartes yang menyerukan, cogito ergo sum (saya berpikir, maka saya ada). Kesadaran kemanusiaan ala Descartes bertumpu pada pemikiran. Albert Camus bertumpu pada pemberontakan dengan alam dengan mengatakan, “saya memberontak, karena itu saya ada”.
Kesadaran keislaman—atau dengan bahasa lain, nyawa Islam—bertumpu pada spirit lâ ilâha illa Allah dan penegakan moral kemanusiaan. Kepercayaan itu penting agar ada rasa optimisme dalam hidup. Contohnya, seseorang yang hendak naik bus, ia harus percaya dulu bahwa sang sopir bisa membawanya ke tempat tujuan dengan aman dan selamat. Apa jadinya kalau dalam hati terdetik tidak percaya terhadap sopir? Begitu pula dengan keapercayaan terhadap Allah sebagai Petunjuk jalan keselamatan. Dalam kaitannya dengan penegakan moral, mungkin slogannya bisa dibuat dengan mengikuti kalimat Descartes: “saya bermoral karena itu saya ada”. Ini sesuai dengan hadis Nabi yang disebut di atas. Jika demikian misi agama yang paling utama, maka agama, lewat pemeluknya, harus terus menerus merevitalisasi misi moral agama. Jika kesadaran itu semakin hilang, maka agama tidak lagi bermakna dalam kehidupan manusia. Dengan begitu, agama telah ‘dibunuh’ oleh pemeluknya sendiri. Ia ada tapi tak lagi bernyawa. Agama tidak lagi bermakna sebagai “tidak kacau” (a-gama) tetapi menjadi “kacau” (kacau)?
Rabu, 28 Januari 2009
Rabu, 14 Januari 2009
Borneo Corner
GORENG PISANG, WARUNG KOPI, DAN TITIK TEMU KEBUDAYAAN
Mungkin di Jakarta, goreng pisang Pontianak sudah jadi alternatif kuliner warga Jakarta. Ia menjadi jajanan khas daerah yang sudah ‘dimetropolisasi’. Disamping faktor pasar, konstruksi ruang yang berbeda menyebabkan pisang goreng Pontianak menjadi elitis. Harganya bisa lebih mahal hingga lima kali lipat. Apa kelebihannya? Jenis ‘pisang nipah’ yang manis dan legit serta ‘tampilan gorengan’nya yang khas menjadi defernsiasi tersendiri. Di Jakarta, selain ada yang sudah dulu dikenal seperti jeruk Pontianak, kini telah populer dengan pisgor Pontianak. Inilah identitas yang sudah mengalami globalisasi. Cerita identitas lokal, seoarang kawan dari Riau pernah mengeluh: “kalau orang dari daerah lain pergi ke Padang, sebelum meninggalkan kota Padang selalu ingat oleh-oleh seperti kerpik sanjai. Tapi kalau pergi ke Pekanbaru, kebingungan mau bawa oleh-oleh apa?”. Saya mengatakan, “perlu dipikirkan strategi komunkikasi kebudayaan yang jitu” sebagaimana Fadel Muhammad, gubernur Gorontalo yang berhasil mendongkrak brand jagung Gorontalo.
Kembali ke pisang goreng. Di tempat asalnya, ternyata kita dapat menemukannya dengan mudah di pinggir-pinggir jalan. Dari ‘jalan biasa’ hingga jalan protokol dan di pusat-pusat keramaian seperti di jalan Gajah Mada. Sederetan hotel, jajanan khas, dan kedai kopi paling banyak dijumpai di sini. Jalan inipun relatif paling ramai hingga malam hari dibanding jalan A. Yani dimana kantor-kantor pemerintahan berjejer di situ. Sebuat saja di warung kopi depan Hotel Orchad. Kalau anda datang jam tiga sore, tempat itu sudah ramai dikunjungi tamu hingga malam hari. Warung kopi di Pontianak tidak seperti yang biasa dijumpai di Jakarta. Selaian rasa dan aroma kopinya yang khas, sajian tempatnya mirip seperti ‘kafe tenda’ yang dulu pernah marak di Jakarta pasca-krisis (sekitar tahun 1999-an).
Yang menarik, sepanjang yang dapat diamati, para pengunjung yang datang sangat beragam baik dari latar belakang etnis maupun profesi. Saya sering penasaran: apa yang mereka bincangkan hingga berjam-jam duduk di situ. Ternyata, setiap warung kopi memiliki ‘group discussian’nya sendiri. Ada warung kopi yang sering ditongkrongi para ‘free-selsman’. Jika anda ingin mencari motor bekas, rumah, tanah, mobil, hingga ‘bekas isteri’pun ada di situ. Ada juga warung kopi dimana para pejabat sering mendiskusikan aneka proyek dan isu mutasi. Kalau di Jakarta, banyak keputusan penting perusahaan dan kantor pemerintah yang strtegis bisa selesai di lapangan golf. Di Pontianak, karena tidak ada lapangan golf, warung kopi bisa menjadi penggantinya.
Di warung kopi, batas-batas biologis, etnis, agama, dan status sosial lainnya menjadi pudar dan mencair. Orang tidak lagi peduli siapa yang datang dan siapa pemilik warung kopi. Orang Melayu tidak pernah menyoal: di ‘warung kopi Melayu’ atau ‘warung kopi Cina’?, Muslim, Kristen, Koghucu? Meskipun pemilik warung kopi rata-rata adalah etnis Cina, ‘kecinaan’ tidak pernah menjadi halangan. Begitu juga dengan ‘pecel Madura’ yang lumayan di kenal di Pontianak. Meskipun pernah terjadi babak sejarah yang memilukan antara Dayak-Madura dan Melayu-Madura seperti pada Tragedi Sambas tahun 1999, pecel si bibi Madura telah menjadi mediator antar kebudayaan yang efektif.
Mungkin di Jakarta, goreng pisang Pontianak sudah jadi alternatif kuliner warga Jakarta. Ia menjadi jajanan khas daerah yang sudah ‘dimetropolisasi’. Disamping faktor pasar, konstruksi ruang yang berbeda menyebabkan pisang goreng Pontianak menjadi elitis. Harganya bisa lebih mahal hingga lima kali lipat. Apa kelebihannya? Jenis ‘pisang nipah’ yang manis dan legit serta ‘tampilan gorengan’nya yang khas menjadi defernsiasi tersendiri. Di Jakarta, selain ada yang sudah dulu dikenal seperti jeruk Pontianak, kini telah populer dengan pisgor Pontianak. Inilah identitas yang sudah mengalami globalisasi. Cerita identitas lokal, seoarang kawan dari Riau pernah mengeluh: “kalau orang dari daerah lain pergi ke Padang, sebelum meninggalkan kota Padang selalu ingat oleh-oleh seperti kerpik sanjai. Tapi kalau pergi ke Pekanbaru, kebingungan mau bawa oleh-oleh apa?”. Saya mengatakan, “perlu dipikirkan strategi komunkikasi kebudayaan yang jitu” sebagaimana Fadel Muhammad, gubernur Gorontalo yang berhasil mendongkrak brand jagung Gorontalo.
Kembali ke pisang goreng. Di tempat asalnya, ternyata kita dapat menemukannya dengan mudah di pinggir-pinggir jalan. Dari ‘jalan biasa’ hingga jalan protokol dan di pusat-pusat keramaian seperti di jalan Gajah Mada. Sederetan hotel, jajanan khas, dan kedai kopi paling banyak dijumpai di sini. Jalan inipun relatif paling ramai hingga malam hari dibanding jalan A. Yani dimana kantor-kantor pemerintahan berjejer di situ. Sebuat saja di warung kopi depan Hotel Orchad. Kalau anda datang jam tiga sore, tempat itu sudah ramai dikunjungi tamu hingga malam hari. Warung kopi di Pontianak tidak seperti yang biasa dijumpai di Jakarta. Selaian rasa dan aroma kopinya yang khas, sajian tempatnya mirip seperti ‘kafe tenda’ yang dulu pernah marak di Jakarta pasca-krisis (sekitar tahun 1999-an).
Yang menarik, sepanjang yang dapat diamati, para pengunjung yang datang sangat beragam baik dari latar belakang etnis maupun profesi. Saya sering penasaran: apa yang mereka bincangkan hingga berjam-jam duduk di situ. Ternyata, setiap warung kopi memiliki ‘group discussian’nya sendiri. Ada warung kopi yang sering ditongkrongi para ‘free-selsman’. Jika anda ingin mencari motor bekas, rumah, tanah, mobil, hingga ‘bekas isteri’pun ada di situ. Ada juga warung kopi dimana para pejabat sering mendiskusikan aneka proyek dan isu mutasi. Kalau di Jakarta, banyak keputusan penting perusahaan dan kantor pemerintah yang strtegis bisa selesai di lapangan golf. Di Pontianak, karena tidak ada lapangan golf, warung kopi bisa menjadi penggantinya.
Di warung kopi, batas-batas biologis, etnis, agama, dan status sosial lainnya menjadi pudar dan mencair. Orang tidak lagi peduli siapa yang datang dan siapa pemilik warung kopi. Orang Melayu tidak pernah menyoal: di ‘warung kopi Melayu’ atau ‘warung kopi Cina’?, Muslim, Kristen, Koghucu? Meskipun pemilik warung kopi rata-rata adalah etnis Cina, ‘kecinaan’ tidak pernah menjadi halangan. Begitu juga dengan ‘pecel Madura’ yang lumayan di kenal di Pontianak. Meskipun pernah terjadi babak sejarah yang memilukan antara Dayak-Madura dan Melayu-Madura seperti pada Tragedi Sambas tahun 1999, pecel si bibi Madura telah menjadi mediator antar kebudayaan yang efektif.
Jumat, 02 Januari 2009
Wawasan
Teater Kapitalisme
Oleh Abdul Mukti Ro’uf
Dosen STAIN Pontianak
Dalam sebuah seminar bertajuk, “Krisis Global, Dosa Siapa?” yang diselenggarakan STAIN Pontianak (Sabtu, 27/12/2008) baru-baru ini, ada upaya untuk menelusuri akar-akar—kalau malah bukan—menggugat ‘paradigma raksasa’, kapitalisme. Lantas banyak orang kemudian dengan sangat ringan mengusung dan mendudukan Islam sebagai antitesa dari kapitalisme. Seolah-oleh—dengan pengatahuan yang sedikit terbatas—kapitalisme dan Islam (ada juga yang menyandingkan dengan sosialisme) berdiri di atas dua lembah yang dipisahkan oleh sebuah jurang yang dalam.
Diskursus tentang kapitalsime versus sosialisme yang kadang-kadang juga memasukan Islam sebagai variabel di dalamnya, hingga kini masih tetap menjadi diskusi yang hangat terlebih ketika dunia sedang dilanda krisis global yang dipicu oleh krisis keuangan di Amerika dimana sistem ekonomi Amerika, Eropa dan sebagian negera berkembang sebagai produk dari kapitalisme.
Tulisan ini hanya ingin menjawab secara singkat terhadap pertanyaan sederhana: mungkinkah kapitalisme dapat digantikan oleh isme lain ataukah yang akan terjadi hanya komodifikasi?
Saya ingin membuat asumsi sederhana terlebih dahulu yaitu bahwa tidak ada isme di dunia ini yang steril dan terjaga kesuciannya dari dinamika kesejarahan manusia. Kapitalisme sebagai sebuah paham (baik ekonomi maupun politik) dengan demikian akan tetap mengalami learning process-nya sendiri. Dengan mengikuti asumsi itu, dapat dikatakan, “tidak ada orang yang benar-benar murni kapitalis” dan “tidak ada orang yang benar-benar murni sosialis”. Jika ingin ditambah, “tidak ada orang yang benar-benar murni islamis” dalam pengertiannya yang ekstrim.
Cara berpikir demikian sepertinya mendapat konfirmasinya ketika globalisasi hadir di tengah-tengah kebudayaan kita. Prof. DR. Irwan Abdullah memberikan contoh btapa cairnya pendefinisian tentang status budaya seseorang atau kelompok: “orang jawa di Mojokuto (Pare) tidak lagi dengan mudah dapat mengidentifikasi tetangganya sebagai “abangan” atau “santri” maupun “priyayi” baik yang dulu disebut sntri sekarang telah menjadi priyayi (priyayinasi santri) atau yang dulu disebut priyayi sekarang telah menjadi santri (santrinisasi priyayi)”. (Abdullah: 2008). Sahabat saya DR. Khalid Al-Walid, pemikir muda yang lama belajar di Iran membuat pertanyaan yang senafas: “adakah orang syi’ah yang benar-benar syiah atau adakah orang sunni yang benar-benar sunni”?
Karena itu, ketika kita hendak, katakanlah menggugat kapitalisme, maka tujuannya bukan hendak meratakan kapitalisme di muka bumi melainkan agar ia bergeser ke arah keseimbangan baik terhadap siklus ekologi maupun dalam relasi sosial-ekonomi antar umat manusia. Dalam format politik misalnya, ikhtiar Anthony Giddens dengan paradigma The Third Way-nya, yang kemudian dianut oleh pemerintahan Tony Blair di Inggris menunjukkan bahwa manusia abad kini tidak bisa keluar dari ‘paradigma kanan’ (kapitalisme) dan ‘paradigma kiri’ (sosialisme). Dalam doktrin Islampun, di dalamnya memiliki elemen ‘kapitalisme’ seperti perintah untuk menjadi orang kaya dan memiliki elemen ‘sosialisme’ seperti konsep zakat. Karena itu, dari dulu, Islam selalu dipandang sebagai, “The Center Way” (khair al-Umûr awsathuhâ)
Apa yang salah dari kapitalisme?
Kapitalisme biasanya dituduh bersalah karena menyediakan conceptual frame work yang menggerakan ‘semangat asal untung’ dengan basis materialisme. Artinya, kualitas hubungan sesama manusia dan manusia dengan alam bersifat materialistik. Simaklah sepak terjang ekonomi mutakhir. Watak perekonomian dunia saat ini dicirikan oleh beberapa hal: peredaran uang yang makin melaju dan melebihi peredaran barang dan jasa; bentuk-bentuk alokasi uang yang melipatkan uang dalam waktu cepat tanpa harus secara produktif menghasilkan barang dan jasa; upah buruh pabrik yang makin jauh perbandingannya dengan keuntungan yang diperoleh per satuan produk yang dihasilkan.
Fakta-fakta tersebut mengiringi fakta-fakta lain dari perekonomian global seperti arus informasi dan teknologi yang makin cepat, mobilisasi modal, barang, orang yang melewati batas-batas negara, dan pola konsumsi tinggi dari golongan masyarakat menengah ke atas. Sebagian dari para ekonom mengatakan bahwa fakta-fakta demikian menjadi trade mark dan watak dari sistem kapitalisme global (Hudson, 1988)
Implikasi yang dapat disebut dan dirasakan akibat cara kerja kapitalisme global semacam itu antara lain: intensifikasi kompetisi yang amat tinggi, pengabaian pencapain kesejahteraan bersama, hancurnya ikatan-ikatan sosial, pencarian rente, dan lenyapnya etika bisnis dalam hubungan-hubungan bisnis (Hudson, 1988, Cooke, 1990, and Eisenschitze, 1996).
Adakah jalan alternatif?
Apakah dengan krisis global yang sedang dialami dunia akhir-akhir ini dapat dikatakan bahwa kapitalisme telah meredup dan karenanya ia sedang menjemput ajalnya? Lalu dengan mudah dan sederhana kita mengatakan, “kapitalisme di ujung kematian dan Islam di depan mata”? Andaikan kita percaya dengan asumsi yang dibangun di atas, maka slogan seperti itu hanya dapat membangunkan emosi tanpa dapat meyakinkan secara paradigmatik tentang jalan baru pasca-kapitalisme.
Sebagai bukti, banyak wilayah keagamaan yang tidak dapat mempertahankan sifat esensialnya karena interfensi pasar sebagai ciri dari kapitalisme. Fenomena “Haji Plus” adalah contah paling seksi betapa kekuatan pasar (the power of market) dengan mudah menjajah sakralitas haji menjadi hanya sebuah fenomena wisata dengan fasilitas yang semakin bersaing dan ajang pertarungan bisnis antar sesama biro travel. Makanan cepat saji seperti MC Donald sebagai produk dari kerja kapitalisme, dapat dengan mudah ‘mengelabui’ masyarakat agama hanya dengan sertifikat halal dari MUI. Lantas dengan cara apa Islam melawan kapitalisme?
Lagi-lagi, andaikan kita percaya dengan asumsi di atas, maka, jangan-jangan, yang dapat dimungkinkan adalah melakukan “islamisasi” kapitalisme seperti “santirinisasi priyayi”. Seperti juga yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga, memasukkan cerita Islam dalam pewayangan dalam tradisi Hindu. Akhirnya, kisah kapitalisme tidak berujung pada kematian. Yang ada adalah tukar menukar ‘nyawa’. Wallahu a’lam
Oleh Abdul Mukti Ro’uf
Dosen STAIN Pontianak
Dalam sebuah seminar bertajuk, “Krisis Global, Dosa Siapa?” yang diselenggarakan STAIN Pontianak (Sabtu, 27/12/2008) baru-baru ini, ada upaya untuk menelusuri akar-akar—kalau malah bukan—menggugat ‘paradigma raksasa’, kapitalisme. Lantas banyak orang kemudian dengan sangat ringan mengusung dan mendudukan Islam sebagai antitesa dari kapitalisme. Seolah-oleh—dengan pengatahuan yang sedikit terbatas—kapitalisme dan Islam (ada juga yang menyandingkan dengan sosialisme) berdiri di atas dua lembah yang dipisahkan oleh sebuah jurang yang dalam.
Diskursus tentang kapitalsime versus sosialisme yang kadang-kadang juga memasukan Islam sebagai variabel di dalamnya, hingga kini masih tetap menjadi diskusi yang hangat terlebih ketika dunia sedang dilanda krisis global yang dipicu oleh krisis keuangan di Amerika dimana sistem ekonomi Amerika, Eropa dan sebagian negera berkembang sebagai produk dari kapitalisme.
Tulisan ini hanya ingin menjawab secara singkat terhadap pertanyaan sederhana: mungkinkah kapitalisme dapat digantikan oleh isme lain ataukah yang akan terjadi hanya komodifikasi?
Saya ingin membuat asumsi sederhana terlebih dahulu yaitu bahwa tidak ada isme di dunia ini yang steril dan terjaga kesuciannya dari dinamika kesejarahan manusia. Kapitalisme sebagai sebuah paham (baik ekonomi maupun politik) dengan demikian akan tetap mengalami learning process-nya sendiri. Dengan mengikuti asumsi itu, dapat dikatakan, “tidak ada orang yang benar-benar murni kapitalis” dan “tidak ada orang yang benar-benar murni sosialis”. Jika ingin ditambah, “tidak ada orang yang benar-benar murni islamis” dalam pengertiannya yang ekstrim.
Cara berpikir demikian sepertinya mendapat konfirmasinya ketika globalisasi hadir di tengah-tengah kebudayaan kita. Prof. DR. Irwan Abdullah memberikan contoh btapa cairnya pendefinisian tentang status budaya seseorang atau kelompok: “orang jawa di Mojokuto (Pare) tidak lagi dengan mudah dapat mengidentifikasi tetangganya sebagai “abangan” atau “santri” maupun “priyayi” baik yang dulu disebut sntri sekarang telah menjadi priyayi (priyayinasi santri) atau yang dulu disebut priyayi sekarang telah menjadi santri (santrinisasi priyayi)”. (Abdullah: 2008). Sahabat saya DR. Khalid Al-Walid, pemikir muda yang lama belajar di Iran membuat pertanyaan yang senafas: “adakah orang syi’ah yang benar-benar syiah atau adakah orang sunni yang benar-benar sunni”?
Karena itu, ketika kita hendak, katakanlah menggugat kapitalisme, maka tujuannya bukan hendak meratakan kapitalisme di muka bumi melainkan agar ia bergeser ke arah keseimbangan baik terhadap siklus ekologi maupun dalam relasi sosial-ekonomi antar umat manusia. Dalam format politik misalnya, ikhtiar Anthony Giddens dengan paradigma The Third Way-nya, yang kemudian dianut oleh pemerintahan Tony Blair di Inggris menunjukkan bahwa manusia abad kini tidak bisa keluar dari ‘paradigma kanan’ (kapitalisme) dan ‘paradigma kiri’ (sosialisme). Dalam doktrin Islampun, di dalamnya memiliki elemen ‘kapitalisme’ seperti perintah untuk menjadi orang kaya dan memiliki elemen ‘sosialisme’ seperti konsep zakat. Karena itu, dari dulu, Islam selalu dipandang sebagai, “The Center Way” (khair al-Umûr awsathuhâ)
Apa yang salah dari kapitalisme?
Kapitalisme biasanya dituduh bersalah karena menyediakan conceptual frame work yang menggerakan ‘semangat asal untung’ dengan basis materialisme. Artinya, kualitas hubungan sesama manusia dan manusia dengan alam bersifat materialistik. Simaklah sepak terjang ekonomi mutakhir. Watak perekonomian dunia saat ini dicirikan oleh beberapa hal: peredaran uang yang makin melaju dan melebihi peredaran barang dan jasa; bentuk-bentuk alokasi uang yang melipatkan uang dalam waktu cepat tanpa harus secara produktif menghasilkan barang dan jasa; upah buruh pabrik yang makin jauh perbandingannya dengan keuntungan yang diperoleh per satuan produk yang dihasilkan.
Fakta-fakta tersebut mengiringi fakta-fakta lain dari perekonomian global seperti arus informasi dan teknologi yang makin cepat, mobilisasi modal, barang, orang yang melewati batas-batas negara, dan pola konsumsi tinggi dari golongan masyarakat menengah ke atas. Sebagian dari para ekonom mengatakan bahwa fakta-fakta demikian menjadi trade mark dan watak dari sistem kapitalisme global (Hudson, 1988)
Implikasi yang dapat disebut dan dirasakan akibat cara kerja kapitalisme global semacam itu antara lain: intensifikasi kompetisi yang amat tinggi, pengabaian pencapain kesejahteraan bersama, hancurnya ikatan-ikatan sosial, pencarian rente, dan lenyapnya etika bisnis dalam hubungan-hubungan bisnis (Hudson, 1988, Cooke, 1990, and Eisenschitze, 1996).
Adakah jalan alternatif?
Apakah dengan krisis global yang sedang dialami dunia akhir-akhir ini dapat dikatakan bahwa kapitalisme telah meredup dan karenanya ia sedang menjemput ajalnya? Lalu dengan mudah dan sederhana kita mengatakan, “kapitalisme di ujung kematian dan Islam di depan mata”? Andaikan kita percaya dengan asumsi yang dibangun di atas, maka slogan seperti itu hanya dapat membangunkan emosi tanpa dapat meyakinkan secara paradigmatik tentang jalan baru pasca-kapitalisme.
Sebagai bukti, banyak wilayah keagamaan yang tidak dapat mempertahankan sifat esensialnya karena interfensi pasar sebagai ciri dari kapitalisme. Fenomena “Haji Plus” adalah contah paling seksi betapa kekuatan pasar (the power of market) dengan mudah menjajah sakralitas haji menjadi hanya sebuah fenomena wisata dengan fasilitas yang semakin bersaing dan ajang pertarungan bisnis antar sesama biro travel. Makanan cepat saji seperti MC Donald sebagai produk dari kerja kapitalisme, dapat dengan mudah ‘mengelabui’ masyarakat agama hanya dengan sertifikat halal dari MUI. Lantas dengan cara apa Islam melawan kapitalisme?
Lagi-lagi, andaikan kita percaya dengan asumsi di atas, maka, jangan-jangan, yang dapat dimungkinkan adalah melakukan “islamisasi” kapitalisme seperti “santirinisasi priyayi”. Seperti juga yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga, memasukkan cerita Islam dalam pewayangan dalam tradisi Hindu. Akhirnya, kisah kapitalisme tidak berujung pada kematian. Yang ada adalah tukar menukar ‘nyawa’. Wallahu a’lam
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)