Pasar Plamboyan
Entah kenapa pasar ini diberinama Plamboyan. Sebuah pasar tradisional paling besar di Kota Pontianak. Ketika anda masuk di pagi-pagi hari, lagu-lagu mandarin segera terdengar di telinga anda yang bersumber dari penjual kaset kaki lima. Suatu tanda dari identifikasi budaya: etnis Cina. Jumlah etnis ini menurut Badan Pusat Statistik 2003 menempati urutan ketiga dari jumlah populasi penduduk Kalbar (3,5 juta) yaitu 12% dibawah etnis Dayak (42%), Melayu (39%) dan terakhir Madura (5%). Empat kelompok inilah yang mewarnai Kalbar sebagai dominant groups.
Jika diamanti sepintas dalam ruang pasar plamboyan, etnis ini berada di semua pojok. Di pojok ikan, banyak ditemukan orang Cina meskipun umumnya penjual ikan adalah orang Melayu terutama dilihat dari logat bicara dan struktur wajah. Di Pontianak, jika sesama etnis ini bebicara akan menggunakan bahasanya sendiri. Berbeda kalau kita di Jakarta atau di Surabaya atau di Medan. Di Gelodok, pasar elektronik yang didominasi etnis ini, mereka tetap berbicara bahasa Indonesia atau paling tidak Jakartaan.
Tukang sayuran umumnya beragam; Cina, Jawa, Madura, Melayu. Berbeda lagi dengan tukang pisang. Kalau dilihat dari busana, logat bicara, dan struktur wajah, segera teridentifikasi sebagai etnis Madura. Mereka punya kebanggaan menjual pisang nipah. Pisang yang menjadi kebanggaan masyarakat Kalbar karena rasanya yang manis dan telah menjadi ciri khas. Di Jakarta sudah mulai ramai dijual “Pisang Goreng Ponti”. Pisang goreng ini di tempat asalnya hanya enam ratus rupiah per biji. Semahal-mahalnya seribu rupiah kalau dibeli dipinggiran jalan Gajah Mada. Di Jakarta berkisar tiga ribuan atau empat ribu per biji. Kalau beli mentah sekitar 1200-1400 per kilogram. Pisang ini sudah menjadi komoditi yang sering ‘diekspor’ ke Jakarta.
Telur ayam di Pasar Plamboyan dihargai satuan yang harganya berkisar dari 900-1300 per biji. Naik hampir seratus persen lebih dari delapan tahun lalu. Tahun 2000 ketika penulis masih tinggal di Pontianak harganya masih sekitar 400-600-an rupiah. Penjual telur ayam dan sembako pada umumnya adalah orang Cina yang menguasai toko-toko di pasar Plamboyan.
Seperti pasar tradisional pada umumnya di Indonesia yang becek, Plamboyan mengekspresikan itu. Tetapi ibu-ibu yang belanja seperti biasa, tidak peduli dengan itu. Alasannya bisa ditawar dan murah daripada harus ke super market. Masyarakat kita pada umumnya adalah ‘masyarakat pasar tradisional’. Di situ ada harmoni. Kalau setiap hari pasar Palmboyan mengumpulkan 500 juta, akan terbagi ke dalam domonant gropus meskipun mungkin urutannya menjadi terbalik dari data BPS. Etnis Cina karena identifikasi kebudayaannya yang identik dengan dunia dagang, ia selalu menjadi juaranya. Dari fakta sosial itu, sebagai orang yang lama menggeluti Islamic studies, saya berpikir, jangan-jangan, seruan Nabi yang mengatakan, “tuntutlah ilmu meski harus pergi ke negeri Cina”—selain karena bermakna “jauh” bisa juga secara implisit untuk menggeluti “ilmu dagang”’?
Jumat, 06 Februari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar